Tinjauan Resepsi Sastra Kumpulan Cerpen Celeng Satu Celeng Semua ini Karya Triyanto Triwikromo
Penulis: Diah Zuikaningsih
Abstrak:
Kumpulan cerpen merupakan upaya untuk melihat bagaimana kecenderungan tulisan- tulisan Triyanto Triwikromo dengan sumber kumpulan cerpen Celeng Satu Celeng Semua. Ada 10 cerpen di dalam kumpulan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan masalah, yaitu: (1) naratif kumpulan cerpen (persamaan dan perbedaan) tersebut, dan (2) resepsi pengarang terhadap cerita pendek Celeng Satu Celeng Semua ini. Penelitian ini menggunakan kerangka teori dan pendekatan resepsi sastra. Cerpen-cerpennya juga dibangun dengan pencampuradukan tokoh-tokoh nyata dan fantasi yang pada akhir cerita, protagonis selalu menang. Meskipun demikian, Triyanto telah memiliki posisinya dalam sastra Indonesia.
Kata Kunci: Cerpen, Celeng Satu Celeng Semua, Triyanto Triwikromo, Resepsi Sastra
A. Pendahuluan
Dinamika perkembangan sastra terungkap lewat pergeseran nilai sastra, termasuk perubahan dalam lingkungan pembaca yang menikmati karya sastra tertentu. Resepsi sastra lama dalam masyarakat dapat memperlihatkan pergeseran nilai dan konvensi sebagai aspek hakiki sejarah sastra. Berbagai karya sastra Indonesia yang ditulis oleh para pengarang semakin banyak. Munculnya sejumlah karya sastra Indonesia kontemporer dan posmodernisme, termasuk kumpulan “cerpen Celeng Satu Celeng Semua ini”. Munculnya sejumlah karya sastra tentunya menunjukkan adanya tanggapan pembaca terhadap sastra yang memiliki kecenderungan dengan fenomena budaya, dan sebagainya.
Karya sastra yang akan dijadikan resepsi sastra dalam penulisan ini adalah cerpen atau cerita pendek. Cerpen saat ini banyak diproduksi oleh para penulis dan pengarang. Berbagai tema dibahas dalam cerpen, seperti religi, sosial, budaya, horor, komedi, inspiratif, dan romantisme. Satu hal yang sangat disayangkan adalah produksi cerpen yang melimpah belum diikuti minat baca cerpen yang tinggi. Kumpulan cerpen karya Triyanto Triwikromo sebagai cerpen di Indonesia yang mampu membuat para pembaca belajar dan merenungi setiap kisahnya. Sepenggal kisah-kisah kehidupan manusia yang tertuang sebagai sebuah pembelajaran bagi pembaca. Karya sastra khususnya cerpen dapat memberi sebuah pencerahan kehidupan manusia yang membaca karya sastra ini. Sudah banyak karya yang dimuat di media cetak, media elektronik, dan media sosial (situs online) di Indonesia. Penulis cerpen ternama di Indonesia adalah Triyanto Triwikromo, yang telah banyak menulis cerpen cerpen pilihan dan memenangkan sayembara penulisan di koran Kompas. Cerpen karya Triyanto Triwikromo dimuat pada Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Koran Tempo Media Indonesia. Kumpulan cerpen Celeng Satu Celeng Semua karya Triyanto Triwikromo yang terbit pada bulan Juli 2013. Kumpulan cerpen ini adalah himpunan cerita-cerita Triyanto yang di kumpulan cerpen terbaik Kompas dari tahun 2003 hingga 2012. Terdapat sepuluh cerpen di dalamnya, yaitu “Mata Sunyi Perempuan Takroni”, “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah”, “Sayap Kabut Sultan Ngamid”, “Malaikat Tanah Asal”, “Belenggu Salju”, “Iblis Paris”, “Dalam Hujan Hijau Friedenau”, “Ikan Terbang Kufah”, “Burung Api Siti”, dan “Lengtu Lengmua”. Resepsi terhadap karya sastra dapat berupa pemberian komentar dan tanggapan baik lisan maupun tulisan. Tanggapan bagi para pembaca dapat juga tanggapan bernilai positif maupun tanggapan negatif. Perbedaan pembaca karya sastra seorang pembaca dengan pembaca yang lain dari suatu periode ke periode yang lain disebabkan oleh hal yang mendasar teori estetika resepsi. Dasar teori estetika resepsi berupa prinsip horizon harapan dan tempat terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan masalah, yaitu: (1) naratif kumpulan (persamaan dan perbedaan) cerpen tersebut, dan (2) resepsi pengarang terhadap cerita pendek Celeng Satu Celeng Semua ini.
Cerpen Triyanto sebagai cerita fiksi kontemporer Indonesia dan berpengaruh terhadap perkembangan sejarah sastra. Terutama sejarah prosa cerita pendek, tetapi belum ada penelitian menyeluruh dan mendalam terhadap struktur naratif dan resepsi cerpen tersebut. Oleh karena itu, sebagai tindak resepsi sastra dalam tulisan ini dibahas sekumpulan cerpen tersebut.
B. Kerangka Teori
Resepsi karya sastra prinsip dasarnya, tidak hanya oleh para pembaca yang sezamannya dengan penulis, tetapi juga oleh angkatan pembaca yang berturut-turut sesudah penciptannya. Estetika resepsi adalah ilmu keindahan yang berdasarkan pada tanggapan atau resepsi pembaca. Resepsi sastra (aesthetic of reception) adalah teori sastra yang menjelaskan bagaimana pembaca memberikan tanggapan terhadap karya sastra yang dibacanya, (Junus, 1985:1). Sependapat dengan pemikiran Pradopo (1986:182) mengungkapkan estetika resepsi, yaitu ilmu keindahan yang didasarkan pada tanggapan-tanggapan pembaca atau resepsi pembaca terhadap karya sastra.
Ratna (2012:165) menjelaskan resepsi sastra yang berasal dari kata recipere (Latin), reception (Inggris), artinya sebagai penerimaan pembaca. Resepsi didefinisikan sebagai pengolahan teks dan cara-cara pemberian makna terhadap karya. Pembaca memberikan respon terhadap karya sebagai proses sejarah. Endraswara (2013: 119) berpendapat resepsi sastra merupakan reaksi pembaca terhadap teks. Reaksi tersebut dapat positif dan juga negatif. Resepsi yang bersifat positif mungkin akan membuat pembaca senang atau tertawa, sebaliknya resepsi negatif mungkin akan membuat pembaca sedih, jengkel, atau antipati terhadap teks sastra. Abdullah (dalam Jabrohim, 2015:145) mengemukakan resepsi sastra adalah aliran yang meneliti teks sastra dengan bertitik tolak pada reaksi atau tanggapan pembaca terhadap teks. Dengan demikian, resepsi sastra menitikberatkan pada pembaca. Jika tekanan diberikan kepada teks dan untuk kepentingan teks untuk pemahaman.
Cerpen adalah cerita yang membatasi diri dalam membahas salah satu unsur fiksi dalam aspeknya yang terkecil. Kependekan sebuah cerita pendek bukan karena bentuknya yang jauh lebih pendek dari novel, tetapi karena aspek masalahnya yang sangat dibatasi (Sumardjo, 1983: 69). Soekono (1984: 134) Cerita pendek ialah bentuk prosa baru dalam sastra Indonesia berupa cerita fiksi atau cerita rekaan (cerkan), yang menggambarkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang dalam menghadapi maslah hidup yang luas ini.
Adapun unsur-unsur cerita pendek dikelompokkan menjadi dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Nurgiyantoro (1994: 23) mengungkapkan unsur intrinsik adalah unsur- unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur pembangun tersebut meliputi tema,alur, latar, tokoh, dan penokohan, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.
C. Metode Penelitian
Data penelitian dikumpulkan dari teks (sumber data) yang berupa resepsi pembaca yang diunggah di internet. Cara yang digunakan untuk mengakses sumber data adalah Tanggapan pembaca cerpen “Celeng Satu Celeng Semua ini” pada Pawon Sastra bulan Oktober 2013 dan beberapa jurnal sebelumnya yang sudah dilakukan oleh peneliti lainnya. Objek yang dianalisis adalah tanggapan-tanggapan pembaca yaitu Kumpulan Cerpen Celeng Satu Celeng Semua ini karya Triyanto Triwikromo yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama pada bulan Juli 2013. Penelitian ini menggunakan kerangka teori dan pendekatan resepsi sastra, khususnya resepsi sastra yang memfokuskan pada tanggapan pembaca yang terwujud dalam karya sastra. Data yang telah dideskripsikan tersebut, dipahami untuk menginterpretasikan cerpen “Celeng Satu Celeng Semua ini” bagaimana persamaan dan perbedaan struktur naratif cerpen “Celeng Satu Celeng Semua ini”. resepsi pengarang terhadap cerpen “Celeng Satu Celeng Semua ini”. Validitas data yang dipakai adalah akurasi dan semantis, sedangkan reliabilitas yang dipakai adalah interrater. Validitas tersebut berkaitan dengann adanya hubungan intertekstual (persamaan dan perbedaan) antara unsur-unsur naratif cerpen “Celeng Satu Celeng Semua”.
D. Hasil dan Pembahasan
Pengarang tak hanya melakukan terobosan atas batasan dimensi waktu. Kumpulan cerpen karya Triyanto Triwikromo sangat penting dalam perkembangan sejarah sastra. Sejarah sastra sebagai representasi peristiwa dalam ruang dan waktu yang mengalami destabilisasi dalam kumpulan cerpen ini. Alur yang dibuat dalam cerita pendek diubah dari fakta yang mementahkan sebuah karya sastra, berikut narasi (persamaan dan perbedaan cerita dalam kumpulan cerpen) dan resepsi sastra dari cerpen “Celeng Satu Celeng Semua”;
a) Narasi (Persamaan dan Perbedaan) Kumpulan cerpen “Celeng Satu Celeng Semua”
Kumpulan cerita pendek ini memiliki ceritanya masing-masing. Pertama, berjudul “Mata Sunyi Perempuan Takroni”, cerita bergulir ketika perempuan kencur bernama Zulaikha yang buta ingin menerobos masuk ke dalam Makam Al-Baqi, sedangkan ibunya, Zubaedah, selalu melarangnya karena sudah jelas aturannya bahwa perempuan dilarang menerobos masuk ke dalam Makam Al-Baqi, terlebih perempuan Takroni (imigran Afrika yang tak mungkin kembali ke tanah asal dan juga tak mungkin menjadi warga negara Kerajaan Arab Saudi) seperti mereka. Zubaedah ketakutan ketika Zulaikha memaksa masuk. Pada saat itu, ia teringat dirinya yang beberapa tahun yang lalu nekat menerobos. Kepalanya membentur marmer ketika penjaga makam memergokinya. Sejak saat itu, cahaya hilang dari matanya. Zulaikha termangu di pintu makam dan memanggil ibunya.
Cerita “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah” berkisah tentang Hindun yang dendam pada anak lelakinya yang bernama Hamzah. Hindun ingin membunuh Hamzah. Ada tokoh “aku”yang berwujud setan yang mengadu domba Hindun dan Hamzah. Hindun telah mengetahui bahwa Hamzah-lah yang memerkosa dan membunuh, Nur, adiknya. Triyanto mengawali cerita dengan kisah Hindun dan Hamzah yang terjadi pada zaman Rasulullah.
Lalu, cerita berada pada Hindun dan Hamzah pada masa sekarang. Tokoh “aku” mempertanyakan, mengapa peristiwa yang sama harus terjadi setelah berabad-abad berlalu.
“Sayap Kabut Sultan Ngamid” bercerita tentang penangkapan Diponegoro pada 28 Maret 1830 di Magelang sebagai latar ceritanya. Cerita tersebut bertolak pada lukisan Raden Saleh, yaitu “Penangkapan Diponegoro di Magelang (28 Maret 1830)”. Cerita bergulir ketika orang-orang meributkan sayap yang tumbuh di bahu Sultan Ngamid.
Dalam cerita “Malaikat Tanah Asal”, dua orang perempuan kecil yang dianggap gila oleh orang-orang tanah Alas masih menanti datangnya malaikat dari gorong-gorong. Kisah tentang tanah Alas muncul kembali pada cerita “Belenggu Salju”. Cerpen ini bercerita tentang seorang lelaki yang berasal dari tanah Alas yang sekarang menjadi deputy sheriff di ghetto Compton. Dia ingin membalas dendam atas kematian Grace, kekasihnya. Lambang “Jesus” di punggungnya ketika Grace meregang nyawa menjadi kunci dalam masa pencarian itu. Sementara itu, “Iblis Paris” mengangkat kisah Khun Sa, seorang figure actual dalam sejarah Burma dan terkenal dengan sebutan Raja Opium dengan jalur perdagangannya yang disebut Golden Triangle.2 Ada tokoh Zita di sini yang berperan menjadi istri simpanan Khun Sa. Zita selalu percaya pada kata-kata Khun Sa, bahkan ketika seorang laki-laki lain ingin meminangnya
“Dalam Hujan Hijau Friedenau” bertutur dari sudut pandang seorang perempuan yang sudah meninggal. Dia sedang bernostalgia melihat mantan suaminya, Arok, yang berusia 20 tahun di bawahnya. Sampai akhirnya tokoh “aku” berhenti bercerita ketika Arok menikahi perempuan lain. Perempuan lain itu bernama Adele, ia adalah asisten tokoh “aku” dan Arok. Sementara itu, “Ikan Terbang Kufah” menyoroti rencana pembongkaran Makam Syeikh Muso karena Syeikh Muso dianggap komunis. Kufah tidak setuju karena ia akan kehilangan ikan-ikan kesayangannya jika Makam Syeikh Muso dihancurkan. Namun, pada akhirnya, makam tersebut tetap hancur bersama tubuh Kufah. Kisah yang menyenggol-senggol masalah komunis tidak berhenti di “Ikan Terbang Kufah”.
Akan tetapi, pada cerita “Burung Api Siti” juga menyentil masalah PKI di Indonesia. Tersebutlah Azwar, ayah Siti, yang dianggap PKI oleh warga karena tidak pernah mau bergabung dengan serdadu atau dengan orang-orang yang mengaku paling suci, maka ia pantas dibunuh. Orang-orang yang mengaku dirinya paling suci membantai Azwar, tetapi orang-orang kampung Azwar tidak terima. Terjadilah perang. Namun, pada akhir cerita, Tuhan mengirimkan burung-burung yang membawa api untuk dijatuhkan pada setiap kepala penyerang.
Cerita yang menjadi judul kumpulan cerita adalah “Lengtu Lengmua”. Judul tersebut adalah akronim dari “celeng satu celeng semua”. Cerita bermula ketika seseorang yang dianggap paling suci terkena serangan celeng. Lalu, serangan merambat pada orang lain. Setiap yang terkena serudukan celeng, perilakunya menjadi seperti celeng. Sejak saat itu, pemerintah melarang adanya celeng di wilayah tersebut dengan alasan apa pun. Jamuri merasa celeng-celengnya terancam. Kemudian, ia membawa celeng ke tempat yang tak terjangkau. Sebagaimana rahasia yang disembunyikan, keberadaan celengceleng Jamuri tercium juga oleh masyarakat. Massa sudah menyiapkan berbagai senjata untuk membunuh celeng-celeng milik Jamuri. Namun, tanpa sepengetahuan siapa pun, Jamuri dan celeng- celengnya sudah mempersiapkan diri untuk menyerang orang-orang itu sebelum sampai di tempat.
Tokoh Hamzah sebagai sosok pejuang yang terbunuh di medan perang Uhud pada cerpen “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah”. Hindun adalah perempuan yang menaruh dendam pada Hamzah karena telah membunuh ayahnya. Kedua sosok ini dalam cerpen yang sama, muncul lagi pada zaman berbeda berabad-abad kemudian. Mereka memerankan manusia- manusia berbeda, namun motif pembunuhan Hamzah sebagai akibat dendam Hindun berulang. Dalam cerita yang melompati ruang dan waktu ini, tokoh Iblis justru ditampilkan sebagai sosok yang hendak mencegah terjadinya pengulangan pembunuhan ini, meski ia pun digambarkan tak berdaya pada akhirnya.
Cerpen “Ikan Terbang Kufah” yang melibatkan mencampuradukan beberapa nama dalam sejarah ke dalam tokoh-tokoh berbeda. Dalam cerpen ini menjumpai sosok Syekh Muso, Kiai SIti, dan Abu Jenar, Kufah sebagai seorang anak-anak. Muncul kembali disebut di “Lengtu Lengmua” yakni Kiai SIti dan Abu Jenar. Sedangkan, latarnya berbeda kedua cerpeh tersebut. Pada cerpen tersebut tidak menjelaskan perkara persamaan dan perbedaan. Muncul kembali tempat bernama Alas yang dikisahkan terletak di antara Semarang dan Solo. Alas muncul dalam “Malaikat Tanah Asal” yang menceritakan dua gadia cilik bernama Hayati dan Maya yang dianggap tidak waras oleh penduduk Alas. Tempat ini muncul dalam cerpen “Belenggu Salju” sebagai kota kelahiran utama Tito, yang menjadi deputy sheriff di kota kecil Compton, dekat Los Angeles.
Berdasarkan pemaparan narasi atau cerita dari kumpulan cerpen Celeng Satu Celeng Semua. Judul-judul cerpen tersebut adalah “Mata Sunyi Perempuan Takroni”, “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah”, “Sayap Kabur Sultan Hamid”, “Malaikat Tanah Asal”, “Belenggu Salju”, “Iblis Paris”, “Dalam Hujan Hijau Friedenau”, “Ikan Terbang Kufah”, “Burung Api Siti”, dan “Lengtu Lengmua”. Setiap cerpen tersebut memiliki persamaan dan perbedaan narasinya dilihat dari tema, alur, latar, tokoh, sudut pandang, gaya bahasa, dll. Misalnya, tema dalam cerpen tersebut mengidentifisikasikan pada religius dan realistis pada kisah yang dibuatnya. Latar yang diambil di luar negeri, dengan menggambarkan suasana yang menghanyutkan para pembaca seolah-olah ada di dalam cerita tersebut. Pengemasan peristiwa, benda-benda atau metafora dengan menggunakan bahasa Arab, Inggris dan dialek daerah, dll. Nama-nama tokoh dalam cerpen tersebut mengambil nama-nama pahlawan sejarah Indonesia, sehingga ruang waktu pengemasan tokohnya unik.
b) Resepsi terhadap Cerpen “Celeng Satu Celeng Semua”
Sejak terbitnya kumpulan cerpen “Celeng Satu Celeng Semua” karya Triyanto mendapat resepsi para pembacanya. Resepsi yang didapat dalam cerpen ini adalah resepsi yang positif dan resepsi negative. Akan tetapi, resspi yang ditemukan masih kategori aman. Akibatnya tedapat horizon harapan yang berbeda.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Manneke Budiman bahwa ada harapan baru, horison baru, dan boleh jadi estetika baru yang dibukakan kemungkinannya oleh kumpulan cerpen Celeng Satu Celeng Semua ini. Khalayan fiksi di Indonesia Kontemporer menaruh harapan tersebut di pundak Triyanto Triwikromo. Tanggapan Budiman merupakan tanggapan yang positif, belum ada tanggapan negatif. Bahkan, Goenawan Muhammad mengungkapkan bahwa cerpen-cerpen Triyanto adalah varian dari realisme magis yang berpengaruh ke dalam prosa Indonesia sejak Borges dan Marquez beredar di sini-dihuni oleh hal-hal yang datang dan pergi seperti dalam waham atau mimpi paling gila. Sama halnya dalam tradisi realisme magis cerita-cerita ini mendorong kita untuk menerima semuanya sebagai bagian yang wajar dari kehidupan sehari-hari. Sedangkan tanggapan dari Tia Setiadi mengungkapkan bahwa Triyanto menghadirkan arus cerita, benda-benda, peristiwa, lanskap atau metafora, fragmen sejarah atau sepotong adegan percintaan saat semuanya sedang bergerak. Selain itu, Benny H. Hoed mengungkapkan bahwa cerita membangun cerita adalah suatu fenomena “opera aparte” dan “significance”. Disinilah sebenarnya kelebihan seorang Triyanto. Mungkin ia sendiri tak menyadari hal ini, tetapi sebagai analis dan pembaca, saya melihatnya sebagai seorang pembaharu. Kumpulan cerpen ini banyak memiliki resepsi oleh para pembaca.
Selain resepsi yang positif, yaitu mengacu pada pernyataan pembaca bahwa Celeng Satu Celeng Semua ini bagus, ada juga pembaca yang meresepsi secara negatif latar ruang dan waktu yang bervarian. Resepsi negatif ini terkait dengan dehumanisme dalam penggalan cerpen. Pembaca menyatakan Mesir bukanlah negara yang menjadikan Islam sebagai dasar negaranya. Dengan demikian, Makam adalah tempat untuk dikunjungi bagi siapa saja yang ingin mendoakan tanpa melihat ras, suku, dll. Ketidakadilan dalam penggalan cerpen ini dimnculkan.
Kumpulan cerpen Celeng Satu Celeng Semua karya Triyanto ada sepuluh cerpen terbaik yang diterbitkan. Tempat-tempat yang begitu jauh tertera dalam setiap cerpen. Berbagai latar tempat yang digunakan adalah latar luar negeri, contohnya latar tempat di Saudi Arabia pada “Mata Sunyi Perempuan Takroni”, latar tempat di Compton pada “Belenggu Salju”, latar tempat di Paris pada “Iblis Paris”, dan latar tempat di Friedenau pada “Dalam Hujan Hijau Friedenau”. Triyanto mencoba menciptakan suasana negeri jauh itu ke dalam ceritanya, ke dalam imajinasi pembacanya. Bisa jadi, cerita tentang negeri itu menjauhkan cerita dari pembaca sebab pembaca tidak memiliki sense of belonging dari cerita tersebut. Sebab, terkadang, membaca cerita Triyanto hanya dapat dipahami ketika memahami latar belakang kisah negeri atau peristiwa yang ditulis tersebut.
Ketika membaca cerpen “Lengtu Lengmua”, ingatan saya tiba-tiba harus berada pada cerpen “Legenda Wong Asu” tulisan Seno Gumira Ajidarma. Manusia-manusia yang bersinggungan dengan hewan, lalu manusia-manusia itu berperilaku seperti hewan tersebut. Hanya saja, tokoh-tokoh di “Lengtu Lengmua” hanya berperilaku seperti babi, bukan menjadi babi. Di dalam diri manusia, terdapat sifat-sifat binatang yang kadangkala muncul tanpa pernah disadari. Semacam itulah pesan yang ingin disampaikan oleh Triyanto dan Seno dalam cerpen mereka masing-masing. Tentu saja, setiap pembaca juga memiliki pesan bawaan masing-masing yang telah bersesuai dengan pengalaman.
Membaca tulisan-tulisan Triyanto dalam kumpulan cerpen ini, mau tidak mau, membuat saya mengambil benang merah. Sastra profetik sebenarnya merupakan pembaruan atas konsep sastra transendental yang disampaikan oleh Kuntowijoyo pada Temu Sastra Dewan Kesenian Jakarta yang diadakan di Taman Ismail Marzuki pada 6-8 Desember 1982. Menurut Kuntowijoyo, modernisasi yang masuk dalam kehidupan masyarakat telah membuat manusia terkungkung pada realitas yang hanya ditangkap oleh alat indera dan akalnya. Hal ini membuat kesaksian manusia suatu peristiwa menjadi sangat terbatas.
Manusia hanya bisa merekam peristiwa tanpa bisa menangkap makna dari peristiwa yang terjadi. Masih menurut Kuntowijoyo dalam Maklumat Sastra Profetik (2006:1), kesadaran ketuhanan barulah sepertiga dari kebenaran profetik. Melalui gagasan sastra profetik inilah, ia berusaha membumikan sastra transendental yang selama ini dianggap hanya berurusan dengan dimensi ketuhanan. Ia menghadirkan nilai humanisasi dan liberasi sebagai bentuk realitas duniawi yang juga harus diperhatikan agar seseorang tidak lupa pada tugas-tugas kemanusiannya. Humanisasi, liberasi, dan transendensi adalah tiga aspek yang ada di dalam sastra profetik.
Kisah cerpen “Mata Sunyi Perempuan Takroni” bukanlah situs yang hening-sunyi, tempat seseorang bebas berziarah dengan leluasa dan kapan saja, mengumandangkan doa sembari berlinang air mata mengenang si mati, lalu menaburkan kembang warna-warni. Jauh sari itu; Makam Al-Baqi di Kampung Al-Aghwat menjadi ruang tapal batas tempat identitas, ras, suku, warna kulit, dan jenis kelamin diinterogasi dan dipersoalkan di pintu gebrang. Makam dari seseorang yang saleh, suci, dan dianggap wingit, maka makam itu dijaga ketat oleh puluhan askar yang selalu waspada dan berkacak pinggang siap mengusir siapa pun peziarah yang dianggapnya tidak memenuhi kriteria, namun memaksa menerobos ke kompleks makam. Dua orang perempuan dari dua generasi yang berbeda dan berasal dari ras yang sama yakni ras hitam Takroni bersikeras masuk ke kompleks makam tersebut. Perempuan Zubaedah dan Zulaikha yang berusaha menerobos makam tersebut. Zubaedah yang gagal karena jatuh, sehingga ditendang oleh para pengunjung. Zulaikha yang meluncur ke dalam makam.
Cerpen tersebut membuat resepsi pembaca telah berhasil memberikan banyak pertanyaan yang menggelayut di setiap pembaca. Sepenggal peristiwa ini ketidakadilan terhadap perempuan dan pengebirian serta persekusi terhadap ras tertentu, di hadapan ruang sacral tempat seharusnya setiap orang punya hak yang sama dan diperlakukan setara juga bagi mereka;
“hanyalah dahak yang ditumpahkan dari langit hitam yang sedang batuk… hanyalah gema dari bunyi hoekk dan plok dari kotoran tenggorokan yang membentur lantai marmer.”
Dalam cerpen “Seperti Gerimis yang Meruncing Merah” terdapat tokoh Hamzah dan Hindun. Hamzah sosok pejuang yang terbunuh di medan perang Uhud. Sedangkan Hindun adalah perempuan yang dendam pada Hamzah karena telah membunuh ayahnya. Kedua tokoh ini, dalam cerpen yang sama, muncul pada zaman berbeda berabad-abad kemudia. Mereka memerankan manusia-manusia yang berbeda, namun motif pembunuhan Hamzah sebagai akibat dendam Hindun berulang. Dalam cerita yang melompati ruang dan waktu ini, tokoh iblis ini ditampilkan sosok yang mencegah terjadinya pengulangan pembunuhan.
Cerpen bertajuk “Sayap Kabut Sultan Hamid” adalah peristiwa penangkapan Diponegoro pada 28 Maret 1830 di Magelang sebagai latar bagi ceritanya. Ada pakem historis yang diikuti, tetapi ada sisipan kejadian-kejadian sebagai hasil imajinasi pengarang. Dalam cerita yang diilhami oleh lukisan penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh ini, dilukiskan bahwa Diponegoro memiliki sayap di kedua sisi bahunya. Ayap-sayap yang hanya dapat dilihat oleh beberapa orang alim yang hadir dalam peristiwa penangkapan, namun tidak dapat dilihat oleh para perwira Belanda yang menipu Diponegoro. Benturan antara kekuatan baik yang diwakili oleh sang pangeran dan kekuatan jahat yang diwakili para pejabat colonial melibatkan kekuatan malaikat dan iblis yang bekerja untuk pihak-pihak yang sedang berseteru. Diponegoro bahwa ia ditangkap, tapi ia tidak berkehendak melawan, meski diceritakan bahwa Tuhan mengirimkan jutaan malaikat untuk mengawalnya.
Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan, Roest, de Stuers, atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu. “Kalau mau Sultan Ngamid bisa menghilang. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu. Nah, apakah Sampeyan mau dikutuk jadi tengu?
Selain Haji Ngisa dan Haji Baharudin sebenarnya ada satu orang lagi yang melihat tumbuhnya sayap di kedua bahu Sang Pangeran, yakni Ali Basah Gandakusuma. Hanya bila Haji Ngisa dan Haji Badarudin memandang kedua sayap itu sebagai sayap kesaktian, sementara itu Gandakusuma memandangnya sebagai sayap-sayap kematian. Resepsi pembaca menggelayut pada zaman peperangan Pangeran Diponegoro yang dikaitkan dengan magis.
Menurut Tia Setiadi mengungkapan bahwa Cerpen berjudul “Malaikat Tanah Asal” memiliki resonansi bahasa yang kuat, puitis, dan asosiatif dalam cerpen ini. Rangkaian peristiwa secara bersama-sama dalam cerpen ini terdapat tiga hal, yaitu kemurnian, kebejatan, dan keagungan. Ketiga hal itulah yang meneguhkan dan menjadi cincin magis penghubung kontinuitas yang beraneka. Di sebuah kota yang menyerupai kota Luth, orang-orang yang dianggap waras justru mereka yang berwajah unta dan bermental babi. Sebuah kota uang dipenuhi para penjagal dan para pendosa dan menjadi ancaman pada si Liyan yang mencoba- coba berkunjung, bahkan ketika si Liyan itu seorang malaikat: “Tinggalkan kota ini. Jika tidak mau, kami para serdadu akan membakar Sampeyan hidup-hidup.”
Adapun penemuan terbesar Laurence Sterne (yang lalu diikuti Diderot) adalah digresi. Digresi adalah strategi untuk menangguhkan akhir, pergelakan atau pelarian dengan
pelanturan ke pelbagai arah dan dimensi. Dalam kasus cerpen “Malaikat Tanah Asal” yang ditangguhkan sepanjang cerita itu adalah membersitnya cahaya dari kubangan lumpur;
Apakah kau juga sudah bertemu dengan malaikat yang mengibaskan sayapnya di kubangan lumpur yang anyir itu. Maya? Apakah ia sudah menndekap dan menidurkannya? Ihik! Ihik! Jangan risau, manisku, kalau kudapat satu malaikat berwajah kelabu, akan kubagi separuh lidah ganjilnya untuknya..
Maya terdiam, takjub oleh kilau lumpur yang menyala-nyala dari lubang makam yang kian membesar. Ia tahu sebentar lagi seluruh kota akan dililit cahaya. Hingga jendela surge sirna. Hingga pintu neraka tak ada.
O, engkau masih menatap para malaikat menari di kubangan lumpur itu, Maya?
“Ya, Hayati, malaikat-malaikat itu ajan segera mengajak kita belajar terbang ke segala gunung dan hutan pada saat jendela surga ditutup untuk ayah dan ibu kita.”
Cerita tersebut menurut Tia Setiahadi cerita tersebut berakhir dengan terbuka ke pelbagai cabang dan arah kemungkinan.
Cerpen Kisah tentang tanah Alas muncul kembali pada cerita “Belenggu Salju”. Cerpen ini bercerita tentang seorang lelaki yang berasal dari tanah Alas yang sekarang menjadi deputy sheriff di ghetto Compton. Dia ingin membalas dendam atas kematian Grace, kekasihnya. Lambang “Jesus” di punggungnya ketika Grace meregang nyawa menjadi kunci dalam masa pencarian itu.
Cerpen “Dalam Hujan Hijau Friedenau” berlangsung dalam persepektif waktu orang yang sudah meninggal. Hamparan lanskap, citra-citra, benda-benda, dan aneka makhluk ajaib yang berhamburan di setiap sudut cerita tetap terasa wajar. Awal pengenalan cerita sudah disuguhkan ke dalam panorama visual, yakni:
Kereta yang sesat berhenti di Stasiun Friedenau itu memang semula ingin menumpahkan aku dan 99 pasang malaikat yang ingin merayakan pernikahannmu dengan Ellen Adele, Arok. Dari Apartemen Carstennstr 25 B tempat kita (sepasang iblis manis pemuja Mozart), menggambar percintaan ribuan kelelawar di Kanvas bekas dan menciptakan komposisi kebrengsekan Berlin di gamelan sengan dan piano busuk, aku memang merayu para malaikat itu agar mau mengunjungi makamku di Waldfriedhof Zehlendorf….
Kisah-kisahnya sendiri sebenarnya kisah realistis. Penulis menyajikan sebuah obrolan, namun berbeda dalam penyajiannya. Perbedaan dalam cerpen tersebut membuat bagian- bagian yang seharusnya realis menjadi semu dan fana.Kumpulan cerpen karya Triyanto
Triwikromo mendapat resepsi para pembacanya baik resepsi yang positif maupun yang negative , yang disebabkan oleh horizon harapan yang berbeda.
Secara umum masyarakat Indonesia modern, bahwa Manneke Budiman yang pertama kali memberikan tanggapan yang positif, meskipun sebelumnya ada juga tanggapan, tetapi tanggapa negatif yang berupa komentar.
Dalam obrolan, beberapa pembaca menganggap cerpen-cerpen Triyanto bernuansa realism magis. Kelam penuh metafora. Triyanto memiliki kemampuan berbahasa yang membuat keseluruhan bangunan cerpen-cerpennya menjadi indah. Bagi GunawanTriadmodjo yang menjadi pembaca fanatic karya Triyanto, ia akan mendapati setiap kalimat sangat berarti. Dalam sebuah karya sastra, Gunawan menganggap bahwa kenikmatan bahasa adalah sebuah pencapaian yang tak kalah penting dengan isi cerita, sehingga setiap selesai membaca cerita akan tertinggal dan katrem di benak kita.
Yudi Herwibowo, Putri Hatiningsih, dan Ngadiyo mengungkapkan cerpen Triyanto kental lokalitas. “Lokalitas-lokalitas internasional. Dalam cerpen-cerpen pembaca diajak mengunjungi tempat-tempat di benua lain.hutan, kota besar yang hingar, lorong-lorong dan makan. Triyanto menggunakan bahan yang ada, yang cukup sering muncul dalam cerpen- cerpen pilihan kurun waktu 2003-2012. Seperti Saya, Malaikat, Iblis, Perempuan kencur, dan kencana. Putri mendapati paradox dunia celeng dan Kiai yang saling menyusup. Yudi mengungkap ketika membaca kumcer ini, ia seperti memasuki lorong yang gelap dan tak tahu apa yang terjadi di depan. Tanpa gerbang, tiba-tiba saja sudah ada di tempat yang gelap itu.
Fauzy menangkap bermacam konstruksi kematian. Tokoh perempuan kebanyakan digambaran berada di tubir kematian. Ia menjuduli pembacanya: Perempuan di Ujung Maut. Manangkap kematian dalam pikiran para tokoh perempuan. Kematian religius yang membawa berkah, kematian sebagai ancaman eksistensi hidup. Kematian yang mengancam romantisme asmara, kematian yang menimpa gadis kecil tak berdosa. Fauzy merasa dalam cerpen-cerpen Triyanto tiap karakter tokoh perempuan dibangun dengan ketersudutan pada mati. Maka cerpen itu menghasilkan pengkarakteran tokoh perempuan yang kuat. Itu membuat tokoh perempuan Triyanto berbeda dengan tokoh-tokoh perempuan penulis cerpen seperti Djenar Mahesa Ayu, Linda Christanty, Laila S. Chudori, dll.
Pembacaan Han Gagas terhadap cerpen “Burung Api Siti” yang dibacanya secara khusu, dipenuhi nuansa religiusitas Jawa. Sebutan-sebutan tokoh dalam Islam mewarnai di dalamnya. Ia menyoroti sisi makrifat teks dan mengungkapkan kejanggalan-kejanggalan dalam cerpen tersebut.
Menurut Triyanto tokoh-tokoh yang diambil terinspirasi dari dunia pewayangan atau kesan beliau dapatkan dalam perjalanan, khususnya kala tersesat. Dalam wayang ada berbagai model mati atau cara mati yang sangat menakjubkan. Setiap tokoh-tokoh diciptakan lengkap dengan sisi gelap dan terang, baik dan buruk. (Buletin Sastra Pawon, pawonsastra.com)
Dengan demikian, resepsi sastra dalam kumpulan Cerpen “Celeng Satu Celeng Semua” karya Triyanto Triwikromo merupakan horizon baru dan jenis karya kontemporer. Berbagai tanggapan dari para pembaca sastra bahwa karya Triyanti identik dengan realistis, batasan antara ruang dan waktu, secara historis mengambil peristiwa penting di Indonesia, dsb.
E. Kesimpulan
Kumpulan cerita pendek Celeng Satu Celeng Semua karya Triyanto Triwikromo mendapat tanggapan atau resepsi bagi pembacanya. Resepsi berupa penilaian kriteria unsur-unsur intrinsic dan kriteria unsur-unsur ekstrinsik. Bagi pembaca yang menghargai secara positif dan ada pula yang memberikan tanggapan negatif. Pola cerpen ini yang hampir sama dan sebagai realisme magis atau upaya ke sastra profetik yang telah menjadi karakteristik ceritanya. Karya sastra Triyanto berada dalam tataran “aman”, hampir tidak ada kritik dan tanggapan yang menggugat karya-karyanya.
Daftar Pustaka
Abdullah, Imran T. Resepsi Sastra Teori dan Penerapannya.
Munaris. (2018). Resepsi Pembaca terhadap Unsur Fakta Cerita dalam Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shyrazi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Nariswari, Fitria Sis. (2018). Kumpulan Cerpen Celeng Satu Semua Karya Triyanto Triwikromo: Sebuah Metafora Tuhan. Jurnal Urban Vol 2 No. 1, April
Nurgiyantoro, Burhan. (1998). Transformasi Pewayangan dalam Fiksi Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Parhatun, Upi Siti. (2018). Kritik Cerpen Seperti Gerimis yang Meruncing Merah Karya Nasional (Pesona), Universitas Muhammadiyah.
Triyanto Triwikromo dengan Pendekatan Psikologi. Jurnal Pekan Seminar Triwikromo, Triyanto. (2013). Celeng Satu Celeng Semua Kumpulan Cerpen. Jakarta: PT Gramedia. Teeuw, A. (2015). Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Bandung: PT Dunia
Pustaka Jaya.
Wirjosoedarmo, Soekono. (1984). Pengantar ke Arah Studi Teori Sastra Indonesia. Jember: PT Intan.
Wiyatmi. 2013. Transformasi dan Resepsi Ramayana dalam Novel Kitab Omong Kosong Karya Sena Gumina Ajidarma: Kajian Resepsi Sastra.
-100x100.jpeg)



-100x100.jpg)

