Jejak Langkah dari Sei Menggaris: Transformasi Seorang Prajurit
**Bagian 1: Harapan di Balik Seragam Putih-Abu**
Tahun-tahun di SMKN 1 Sei Menggaris bukan sekadar masa belajar teori di kelas. Saya berasal dari jurusan pertanian atau di singkat ATPH selama bersekolah kami menjabat sebagai Wakil ketua OSIS periode 2019/2020 dan ketua PIK-R periode 2019-2020.
Bagi Saya setiap pagi adalah perjuangan melawan kabut dan jarak menuju sekolah. Di sekolah kejuruan ini, saya tidak hanya belajar tentang keterampilan teknis, tetapi juga dibentuk karakternya. Disiplin waktu, tanggung jawab terhadap tugas, dan solidaritas antar-kawan menjadi makanan sehari-hari.
Waktu sekolah saya sering berdiri di lapangan sekolah, menatap cakrawala perbatasan. Di sana, saya melihat kedisiplinan para anggota TNI yang sedang bertugas menjaga tanah air. Itulah titik balik ketika saya memutuskan: "Suatu hari nanti, seragam ini akan berganti. Dari seragam siswa menjadi seragam prajurit yang menjaga negeri."
**Bagian 2: Persiapan di Tengah Keterbatasan**
Menyadari bahwa menjadi tentara membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa, Saya mulai membangun disiplin pribadi. Sepulang sekolah, saat teman-temannya beristirahat, saya justru memulai latihan mandiri. Lari mengelilingi area pemukiman, pull-up di dahan pohon, hingga melatih fokus di tengah keheningan malam perbatasan menjadi rutinitas rahasia saya .
Saya tidak memiliki pelatih profesional, namun saya memiliki tekad yang baja. SMKN 1 Sei Menggaris menjadi tempat saya menempa mental. Saya belajar bahwa setiap tugas teknis yang diberikan guru harus diselesaikan dengan presisi, persis seperti bagaimana seorang prajurit harus menyelesaikan misi dengan sempurna.
**Bagian 3: Menjemput Takdir**
Lulus dari SMKN 1 Sei Menggaris adalah pintu gerbang menuju tantangan yang lebih besar. Saya mendaftarkan diri menjadi calon prajurit TNI AD. Di setiap tahapan seleksi, saya membawa semangat "Anak Perbatasan" yang pantang menyerah. Saat berada di pusat seleksi, saya teringat bagaimana saya dulu harus berusaha keras di sekolah.
Setiap tetes keringat saat tes jasmani, setiap ketegangan saat menjalani psikotes, dan setiap doa yang saya langitkan, semuanya adalah manifestasi dari mimpi yang saya tanam sejak masih berseragam sekolah kejuruan. Ketika pengumuman kelulusan tiba dan namanya disebut sebagai salah satu yang terpilih, saya menyadari bahwa perjuangan sebenarnya baru saja dimulai.
**Bagian 4: Menjadi Abdi Negara**
Masa pendidikan militer adalah fase pendewasaan yang luar biasa. Saya ditempa di kawah candradimuka di Rindam VI/Mulawarman Kalimantan Selatan saya dididik untuk mengesampingkan kepentingan pribadi demi kehormatan bangsa. Kini kami Terpilih menjadi Prajurit Kostrad di bawa naungan Divisi infanteri 1 Kostrad di Cilodong Depok Jawa Barat dan sekarang kami berdinas di Mabes TNI Angkatan Darat Jakarta Pusat
**Epilog: Inspirasi dari Ujung Negeri**
Saya telah membuktikan bahwa latar belakang sekolah kejuruan di daerah perbatasan tidak menjadi penghalang untuk menggapai cita-cita setinggi langit adalah bukti bahwa disiplin yang dipupuk sejak dini, keteguhan hati, dan kerja keras adalah kunci utama kesuksesan.
Bagi adik-adik kelas saya di SMKN 1 Sei Menggaris pesan saya bahwa impian besar berhak dimiliki oleh siapa saja, selama mereka berani memperjuangkannya dengan tindakan nyata. Dari Sei Menggaris, saya tidak hanya membawa nama sekolah, tapi juga membawa kehormatan bagi Indonesia.
Salam hormat
Sersan Dua Muhammad Wahyu Syarif (penulis), Waka Humas 2026 (editor)
-100x100.jpeg)



-100x100.jpeg)