Pop Up Books sebagai Pembelajaran Bahasa Indonesia SMK Kelas X
Pop up sebagai media
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas X SMK Negeri 1 Sei Menggaris yang menarik. Guru
melihat tumpukan kardus-kardus yang depan kantor guru. Kemudian guru
memanfaatkan kardus tersebut didaur ulang semenarik mungkin dalam pembelajaran.
Guru membuat media pembelajaran tersebut sebagai contoh terlebih dahulu. Dari contoh
yang seudah dibuat oleh guru agar murid membuat pop books yang mereka buat. Media
ini adalah bagian cara paling efektif bagi muird yang gampang bosan dan butuh
konteks nyata. Berikut kelebihan media dari Pop Up Books sebagai berikut:
1. Kekuatan utama: visual +
kinestetik
Materi Bahasa Indonesia kelas
X SMK kurikulum Merdeka banyak banget: teks laporan hasil observasi, teks
eksposisi, hikayat, negosiasi, debat. Kebanyakan abstrak kalau cuma ceramah.
Pop up mengubah struktur teks yang rumit jadi 3D. Misal: pas bahas struktur
teks negosiasi, tiap lipatan pop up bisa jadi tahap "orientasi → pengajuan
→ penawaran → persetujuan → penutup". Murid tinggal buka-tutup dan
langsung paham alurnya. Ini masuk banget buat anak SMK yang dominan kinestetik
dan visual. Pemanfaatan media ini digunakan sebagai media yang memudahkan murid
memahami teks negosiasi. Setelah dibuat media pop up book, murid diminta
mempresentasikan melalui video yang dijadikan konten di IG/Instagram.
2. Relevan dengan karakter
anak SMK
Murid SMK orientasinya kerja.
Mereka butuh learning by doing. Daripada PPT, membuat pop up itu proyek.
Murid kelas X dapat diminta bikin pop up teks negosiasi sesuai jurusannya.
Contoh: anak APL buat pop up "Jual beli bahan kimia", murid TAB membuat
"Negosiasi surat penawaran jasa perawatan alat berat", dan murid
jurusan ATPH “Jual Beli Harga Cabai”. Pembelajaran Bahasa Indonesia langsung
nyambung ke produktif.
Selain itu, ada beberapa
kelemahan dalam media pop Up Books ini, yaitu:
(1)
Memakan
waktu lama. Dalam pembuatan pop up yang lebih bagus hasilnya butuh 2-3 JP.
Kalau guru cuma punya 2 JP/minggu, dapat memakan KD lain;
(2)
Pembiayaan;
Kertas tebal, lem, print warna; dan
(3)
Esensi
vs estetika: Sering banget murid terlalu fokus membuat bagus, tapi isi teksnya
malah ngawur. Guru harus ketat ngawal rubrik isinya dulu, baru tampilan.
Jadi, worth it nggak?
Worth, tapi dengan syarat. Pop up cocok jadi "proyek
puncak" 1 semester sekali, bukan tiap KD. Pilih KD yang paling membutuhkan
visualisasi struktur: teks laporan hasil observasi dan teks negosiasi di kelas
X.
(Penulis: Diah Zuikaningsih)
-100x100.jpeg)




